Perkenalan
“Bang, beli
buku akuntansi dengan siapa?” aku coba bertanya kepada teman disampingku yang
aku ketahui namanya Bobby.
“Oh itu bang, sama perempuan yang pakai
baju warna pink,” dia menjawab sambil menunjuk kearah perempuan tersebut. Aku
langsung menoleh arah perempuan tersebut.
“Oke terimakasih bang,” lalu aku
segera menghampiri perempuan itu dengan maksud ingin membeli buku akuntansi.
Aku perhatikan dia yang sedang sibuk mencatat. Entah apa yang dia catat,
mungkin data-data mahasiswa yang ingin membeli buku dengannya.
“Ayo, sini .. sini ... yang mau beli
buku langsung ke gue aja. Depe dulu dua puluh ribu, nanti minggu depan langsung
gue kasih bukunya,” teriak perempuan itu sambil masih sibuk mencatat dan
menghitung uang yang sudah terkumpul.
Aku menyodorkan uang lima puluh
ribuan kepada dia, “Maaf mba, saya mau beli buku. Ini uangnya.”
“Oh iya mas, ini uang kembaliannya.
Siapa namanya mas?” dia bertanya sambil memberikan uang kembalian.
“Gio.”
“Siapa? Diyo?” perempuan itu salah
dengar, mungkin efek kelas yang masih pada ramai jadi agak kurang jelas suara
yang aku lontarkan.
“Gio mba. G-I-O,” aku coba perjelas
nama aku pakai ejaan.
“Oh Gio. Ya ya ya. Oke udah gue
catat ya. Bukunya minggu depan langsung gue kasih, sekalian nanti lunasin ya
pas bukunya gue kasih.”
“Oke sip. Terimakasih.”
Setelah itu aku kembali ke tempat duduk dan
menghampiri Bobby. Meskipun aku sudah ditempat duduk, aku masih saja memandang
perempuan tersebut. Memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Sepertinya aku
tertarik dengan perempuan itu.
“Eh bang, melamun aja,” suara Bobby
membubarkan lamunanku.
“Eh iya bang, anu ... hhmmm bingung
nih kelas ramai sekali ya sampai sesak begini. Hahaha ...” aku coba mencari
alasan agar tidak tahu bahwa sebenarnya aku sedang memperhatikan perempuan
tersebut.
“Iya nih, kayanya digabung dengan
NIM lama. Eh abang lulusan tahun berapa?” Bobby bertanya kepadaku.
“Gue lulusan tahun 2007. Telat gue
kuliahnya. Awalnya sih tidak ada niat untuk kuliah tapi kesininya malah jadi
mau kuliah. Iri dengan teman-teman gue yang sudah pada lulus,” aku coba
menerangkan alasan aku untuk kuliah kepada Bobby. Meskipun sebenarnya bukan itu
alasan kuatku untuk kuliah. Ada satu alasan kuat aku untuk mencoba memasuki
dunia perkuliahan.
“Panggilnya jangan bang, panggil
nama saja. Jadi berasa tua gue kalau dipanggil bang. Kalian sendiri lulusan
tahun berapa? Dan apa alasannya mau kuliah?” aku coba balikkan pertanyaan itu
kepada mereka.
“Oh iya Yo, kan belum kenal jadinya
panggil bang aja biar keliatannya sopan. Hehe ... Kalau gue lulusan tahun 2010.
Gue telat satu tahun. Pertama lulus langsung bantuin nyokap dagang aja,” ucap
Bobby.
“Nah kalo gue lulusan tahun ini. Gue
sekolahnya di Jawa. Pas lulus kemarin, gue langsung ke Jakarta karena mau
kuliahnya di Jakarta,” jawab Danu.
Ternyata kuliah itu tidak serumit
yang diperkirakan. Banyak teman-teman baru yang aku kenal. Aku sebenarnya tipe
orang yang sulit untuk masuk ke suasana yang baru. Sulit untuk menyesuaikan
lingkungan yang baru, mungkin efek sifat aku yang pemalu dengan orang-orang
baru jadi perasaan seakan-akan sulit untuk masuk ke lingkungan yang baru.
Padahal mah kalau aku sudah bisa sesuaikan dengan lingkungan yang baru, aku
orang yang pandai untuk bergaul dengan siapapun. Hanya saja tadi, untuk memulai
lingkungan yang baru masih agak sulit.
“Oh begitu. Iya iya, salam kenal ya.
Eh udah ada dosennya tuh,” ucap Bobby yang melihat dosen masuk ke ruang kelas.
“Eh iya. Udahan dulu ngobrolnya.
Kita belajar dulu lah,” balas aku.
Pelajaran perama pun dimulai. Hari
ini memang hari pertama aku masuk kuliah tahun ajaran 2011 – 2012. Banyak
diantara meraka saling beradaptasi satu sama lain.
***
Keesokan harinya di kantor, aku
dapat informasi dari Ery salah saatu teman kantor aku, bahwa nanti malam ada
futsal. Aku biasa memang di kantor futsal kadang seminggu sekali, kadang pula
dua minggu sekali. Memang jadwalnya tak menentu.
“Yo, entar
futsal ya jam 7 kaya biasa di tempat biasa.”
“Yah,
sekarang mah gak bisa gue.”
“Kenapa
loe?”
“Ada jadwal kuliah.”
“Lah loe sekarang udah kuliah? Kelas
karyawan ya? Dimana? Wah ... wah ... wah ... udah kuliah dia. Kenapa gak dari
dulu aja loe kuliah, kenapa baru sekarang coba. Orang-orang udah pada lulus,
loe mah baru mulai,” sahut Bagus yang mendengar percakapan aku dengan Ery.
“Hahaha ... iya dong. Di Budi Luhur
Roxy,” balas aku.
“Emang ada di Roxy?” tanya Bagus.
“Ada, itu di Kampus B nya. Di dalam
area Roxy pokoknya.”
“Baguslah kalo gitu. Tapi gue gak
yakin nih kalo loe kuliah niatnya buat belajar, pasti buat nyari cewek yah luh,
ngaku luh!” canda Ery.
“Iyalah mau nyari cewek baru gue.
Udah ah gue mau ke kampus dulu, gue gak main dulu hari ini. Salam aja sama yang
lain,” jawab aku.
Aku pun pulang dan segera menuju ke
kampus. Sesampainya di kampus, aku langsung mencari tempat duduk. Aku coba
perhatikan tempat mana yang masih kosong. Terdengar suara dari kejauhan seperti
ada yang memanggil. Aku coba cari sumber suara tersebut.
“Eh Yo, ssttt ... sini.”
“Eh Bob, kirain siapa yang manggil.
Si Danu kemana? Belum datang?” ternyata yang manggil itu Bobby. Aku langsung
duduk disampingnya sambil aku taruh tas.
“Belum, sebentar lagi juga pasti
datang,” jawab Bobby.
Aku memperhatikan seisi ruangan itu.
Aku mencari perempuan yang kemarin beli buku. Dan ternyata perempuan itu baru
saja datang dan duduk tepat di sampingku. Aku ingin coba menegurnya untuk
sekedar basa-basi tetapi sayang belum tahu siapa namanya. Aku hanya bisa terus
memperhatikan perempuan itu. Paras yang tidak begitu cantik namun cukup manis
untuk dipandang.
“Apa gue suka sama dia ya? Ah
rasanya gak mungkin, masa baru beberapa hari lihat dia langsung suka gitu aja.
Mungkin hanya perasaan penasaran gue aja ke dia,” gumam aku dalam hati.
Tak lama kemudian, kelas pun menjadi
ramai. Mahasiswa sudah mulai berdatangan karena sedikit lagi jam perkuliahan
akan segera dimulai. Dosen pun sudah masuk ke dalam kelas.
Setelah jam kuliah selesai, dosen
meninggalkan ruang kelas dan diikuti oleh beberapa Mahasiswa. Masih ada
beberapa Mahasiswa yang masih berada di dalam kelas.
“Ayo Yo turun,” ajak Bobby dan Danu.
“Iya kalian duluan aja, gue masih
mau di dalam kelas.”
“Yaudah kita duluan ya.”
“Oke. Hati-hati luh.”
Bobby dan Danu meninggalkan ruangan
kelas. Aku masih ada di dalam kelas, sambil membereskan alat-alat tulis.
“Eh ini siapa lagi yang mau bayar
buku? Besok terakhir loh,” terdengar suara perempuan itu.
“Gue besok aja Na, cuma bawa duit
pas-pasan,” balas salah satu teman yang aku ketahui bernama Lili.
“Dina, gue bayar sekarang aja nih,
berapa sih? Dua puluh ribu ya? Nih uangnya,” balas salah satu teman lainnya.
“Oke. Noted,” dina mengambil uang
tersebut dan mencatat nama teman yang tadi sudah bayar.
Dina, ternyata Dina namanya.
Akhirnya aku tahu siapa nama perempuan tersebut. Aku semakin penasaran untuk
mencari tahu sosok Dina lebih jauh.
“Eh Na, jangan lupa ya gue udah
bayar. Jangan lupa dicatet nama gue,” aku mencoba untuk sok akrab dengan Dina.
“Eh iya, loe namanya siapa dah
kemarin gue lupa?”
“Wah sehari aja udah lupa nama gue.”
“Iya, siapa dah? Gio ya?”
“Nah, tuh tau. Iya betul. Hehehe
...”
“Iya iya mudah-mudahan gue gak lupa.
Hehehe ...”
Aku langsung segera keluar ruang
kelas. Sepertinya perempuan itu sangat asyik diajak bicara dan mudah bergaul
dengan orang baru. Tidak seperti aku, untuk menegur dia tadi pun harus punya
nyali yang besar dulu. Tapi itu tidak jadi penghalang buat aku agar bisa lebih
dekat dengan Dina. Iya Dina, perempuan yang selalu aku pikirkan dua hari ini.
***
Dua minggu masa perkuliahan
berjalan, aku masih mencari tahu sosok perempuan itu. Karena rasa penasaran
yang begitu besar, aku coba untuk mencari tahu di media sosial milik Dina.
Mulai dari facebook, instagram dan path aku jelajahi. Sampai aku tahu tempat
dimana dia sekolah waktu SMP. Aku ingat sekali dengan nama sekolah itu. Iya,
aku punya teman yang pernah sekolah di tempat itu. Teman SMK aku pernah sekolah
di sana.
Aku coba tanya kepada Adin, teman
SMK ku dulu. Kebetulan aku setiap minggu futsal dengan dia.
“Din, loe sekolahnya di SMP 38 kan
ya? Kenal sama yang namanya Dina gak?”
“Iya, gue kan alumni sana. Dina?
Temen gue gak ada yang namanya Dina dah.”
“Masa gak kenal? Ade kelas loe
sepertinya deh.”
“Gak kenal gue. Kenapa emangnya?
Curiga nih gue,” adin mengernyitkan dahinya sambil menatap aku penuh tanya.
“Gak apa-apa kok, gue Cuma nanya
aja. Dia teman satu kuliah gue. Dia sekolahnya di 38 juga. Adek kelas loe
sepertinya.”
Ternyata Adin tidak mengenal Dina.
Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa cari tahu lebih banyak lagi. Kali saja nanti
ada kesempatan untuk berbicara berdua dengan dia.
Di hari berikutnya di kampus, saat
itu sedang ada mata kuliah Bahasa Inggris. Setelah selesai pelajaran, sang
dosen memberikan tugas kelompok untuk dipresentasikan secara bergilir mulai
minggu depan. Satu kelompok terdiri dari 3-4 orang dengan tugas membuat suatu
situasi dimana percakapannya menggunakan Bahasa Inggris.
Ini kesempatan aku untuk dapat satu
kelompok dengan Dina. Aku sudah mengkira-kira agar bisa satu kelompok dengan
Dina, tapi sayang kelompok tersebut dipilih berdasarkan nomor absen, sedangkan
aku dengan Dina nomor absennya berbeda jauh. Apalah dayaku, gagal lagi untuk
dekat dengan dia.
Setelah dosen memberikan tugas dan
arahan, dosen pun segera meninggalkan ruang kelas dengan diikuti beberapa
mahasiswa di belakangnya. Aku lihat Dina, masih berada di tempat duduknya. Aku
coba memberanikan diri untuk menegur dia sekedar basa-basi.
“Hei, loe kelompok sama siapa?”
“Ini nih kelompok gue, loe sendiri
kelompok dengan siapa?” Dina sambil menunjuk teman satu kelompoknya dan balik
bertanya kepada ku.
“Oh, gue sama Tiya dan Via. Gue
bingung cari tema tentang apa. Temanya ribet semua soalnya. Hehehe ..”
“Dih cari aja yang gampang. Kalo gue
sih tentang kuliner gitu. Lebih simple soalnya, paling nanti beli makanan atau
cemilan gitu buat dijadiin bahan presentasi nanti.”
“Hmmmm, iya ya. Apa gue tentang
kuliner juga kali ya. Kaya di restoran gitu,” balas aku sambil memperhatikan
Dina yang masih merapikan buku-bukunya.
“Nah iya, restoran juga bagus tuh.
Nanti tinggal pake kemeja aja sama bawa perlengkapan restoran.”
“Oke. Makasih sarannya ya. Eh btw,
loe alumni SMP 38 kan ya?” aku coba bertanya lagi.
“Iya, kok loe tau dah? Eh yuk
ngobrolnya sambil turun, gue mau buru-buru pulang, udah lelah,” dia sedikit
terkejut aku tahu tempat dia sekolah. Dia juga mengajak untuk segera keluar
ruang kelas dan turun. Kelihatannya dia memang sedikit lelah, terlihat dari
raut wajahnya.
“Yuk, tau dong. Gue gitu loh,”
sambil keluar ruangan dan menuruni tangga.
“Hhmm ... pasti loe stalker sosmed
gue ya? Ngaku luh?”
“Hehehe ... iya gue liat di sosmed
loe kemarin. Pas gue liat SMP 38, nah gue inget-inget kan tuh soalnya gak asing
sama SMP 38. Gue punya temen juga di sana, gue tanya sama dia eh gak kenal sama
loe katanya. Hu, gak terkenal sih loe,” aku coba ajak dia bercanda.
“Ciee stalker ciee. Ngefans nih
jangan-jangan sama gue. Dih enak aja, gue mah terkenal di sekolah gue. Temen
loe aja kali tuh yang gak terkenal. Emang siapa namanya temen loe?” dia balas
candaan ku. Sepertinya Dina memang orang yang mudah bergaul dan diajak
bercanda.
“Si Adin, kenal gak? Dia kakak kelas
loe.”
“Adin? Adin ... Adin ... gak kenal
gue. Eh gue duluan ya,” sambil menyalakan motornya.
“Iya Adin. Emang loe rumahnya
dimana? Gue kira loe naik ojeg.”
“Di Cengkareng situ. Gak kok, gue
selalu bawa motor.”
“Oh yaudah kalo gitu. Hati-hati di
jalan ya.”
“Oke. Makasih. Bye,” dia langsung
tancap gasnya.
“Iya, bye.”
Akhirnya aku bisa mengajak bicara
Dina juga meskipun hanya sebentar. Yang aku lihat memang dia benar-benar orang
yang menarik, ramah dan mudah diajak bercanda. Setelah Dina pulang, aku juga
memutuskan untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah. Aku masih saja
memikirkan Dina. Aku masih ingin mengobrol dengan dia. Aku ingat, waktu di
kampus ada buat grup chatting untuk mata kuliah Bahasa Inggris. Aku coba cari
nomor teleponnya Dina. Dan ketemulah nomor Dina, tetapi aku ragu untuk memulai
chatting dengan dia. Bingung harus memulai percakapan darimana. Aku coba
memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
Gio : Hei, loe udah ngerjain tugas akuntansi?
Aku coba memulai
pembicaraan dengan menanyakan tugas akuntansi kepada Dina. Tetapi belum dibalas
oleh dia. Mungkin masih dalam perjalanan. Sesaat kemudian Hp ku bergetar,
kulihat ada balasan chat dari Dina.
Dina : Hei.
Belum, loe udah?
Aku langsung balas
chat dari Dina. Dan dari situ aku mulai berbalas chat.
Gio : Yang tugas pertama udah, yang kedua belum. Loe
belum semuanya?
Dina : Yang tugas pertama mah udah gue, yang kedua
sama kaya loe belum. Mager banget. Banyak tugasnya.
Gio : Iya, banyak banget. Gue kira loe udah selesai
semuanya. Eh loe umurnya berapa emangnya?
Dina : Kenapa loe nanya umur gue? Umur gue baru 19
tahun.
Gio : Serius masih 19 tahun?
Dina : Iya serius. Loe sih udah tua, makanya kaget
denger gue yang masih imut-imut ini. Hahaha ...
Gio : Hahaha ... anjir banget. Iya aja deh asal loe
seneng. Gak lah, gue baru 21 tahun. Eh btw loe tau swimming splash gak?
Dina : Mau gue seneng mah bawain gue cake coklat.
Yang dimana? Semanan?
Gio : Oh suka coklat toh. Mau banget apa gue bawain?
Hahaha ... Iya yang di Semanan, enak gak tempatnya?
Dina : Suka banget malah. Issshhhh yaudah gausah
dibawain, gak perlu. Bagus sih tempatnya. Itu mah deket banget dari rumah gue.
Gio : Iya iya, nanti gue bawain ya. Eh ntar dulu,
nanti kalo gue bawain coklat, ada yang marah lagi. Oh deket dari rumah loe toh.
Dina : Bawain satu truk ya? Hahaha ... siapa yang
marah?
Dari obrolan tersebut, sepertinya
Dina masih belum memiliki pacar. Aman lah berarti kalau aku mendekati Dina.
Gio : Hahaha ... satu truk mainan ya? Hmm ... maybe
your boyfriend. Gue mau kesana nanti.
Dina : Kampret, kecil itu mah. Sedih sih
diungkapinnya, tapi gue masih jomblo kok saat ini. Yaudah kesana aja cobain.
Gio : Mau yang banyak? Beli sendiri.
Dina : Dishhhhh ...
Gio : Hahaha ... Eh btw jalan lah yuk next? Gue
beliin cake deh.
Dina : Hahaha ... mau kemana?
Gio : Kemana-mana hatiku senang. Ke tempat yang ada
kuenya lah.
Dina : Iya kemana?
Gio : Ke Harvest. Kalo ditempat loe ada tempat yang
enak gak?
Dina : Boleh boleh. Hehehe ... Duh disini mah gak ada
tempat yang bisa direcommend.
Gio : Oh begitu. Loe ada waktunya kapan Din?
Dina : Gue mah
kapan aja bisa.
Gio : Ohiya ya kalo jomblo mah bebas ya kapan aja
bisa. Wkwkwk ...
Dina :
Kampreettt
Gio : Yaudah malam selasa gue jemput ya. Sekitaran
jam 6 lah.
Dina : Emang loe
pulang kantor jam berapa?
Gio : Jam 5
atau setengah 6. Kalo loe jam berapa pulang kerja?
Dina : Suka-suka gue lah pulangnya jam berapa. Jam 4
gue pulangnya.
Gio : Oh
yaudah. Loe pulang dulu kan?
Dina : Kalo gue pulang dulu, lu jemputnya jauh terus
macetnya gak nahan. Gue aja jarang balik kerja langsung pulang. Wkwkwk ...
Gio : Hahaha ngayab mulu ya. Eh loe bawa motor kan?
Dina : Loe
maunya gue bawa motor apa gak?
Gio : Enaknya sih gak usah bawa motor. Hehehe ...
Dina : Eh loe udah punya cewek? Haduh gue jalan sama
cowo orang dong kalo gitu.
Gio : Haduh kata siapa gue punya cewek?
Setelah itu tidak dibalas lagi
chatku oleh Dina. Aku bingung kenapa dia bisa bicara seperti itu. Aku masih
menunggu balasan dari Dina. Beberapa menit berlalu ternyata tidak dibalas. Aku
coba chat lagi ke Dina.
Gio : Gak dibalas kok?
Dina : Ini dibalas.
Gio : Hmm ... emang kata siapa gue punya cewek? Gue
masih sendiri kok alias single. Hehehe ...
Dina : Wkwkwk
... grup.
Gio : Oh dari grup. Itu mah cuma bercandaan doang
kali.
Dina : Oh
bercanda. Oke kalo gitu.
Gio : Yaudah
malam selasa kita ketemuan aja deh ya di Harvest. Loe kan bawa motor. Kalo loe nunggu
gue pulang takut loe kelamaan nunggunya. Nanti paling sampe sana gue sekitaran
jam setengah 6.
Dina : Oke kalo
gitu.
Ternyata Dina mengira aku sudah
punya cewek. Dia lihat di grup Bahasa Inggris memang ada menyinggung soal
perempuan, tapi itu hanya guyonan saja. Akhirnya, aku janjian untuk bertemu
malam selasa di salah satu tempat kue terkenal. Tak sabar aku menanti hari itu,
ingin sekali berbincang-bincang dengan dia.
***
Hari itu tiba juga, setelah pulang
jam kerja, aku langsung hubungi Dina untuk kasih tahu kalau aku sudah pulang
kerja. Aku beri tahu ke dia bahwa aku langsung menuju ke tempat sesuai yang
dijanjikan dan dia pun kebetulan baru mau berangkat ke tempat itu. Aku tancap
gas motor aku.
Sesampainya di sana, aku dahulu yang
sampai ternyata. Aku menunggu dia beberapa saat. Belum pesan makan dan minum.
Sesaat kemudian, dia sudah sampai juga. Aku coba melambaikan tanganku untuk
memberi tahu posisi aku duduk dan dia melihat lambaian tanganku. Dina segera
masuk tempat itu.
“Hai, lama ya nunggunya?” tanya Dina
yang langsung duduk.
“Ah gak kok, belum lama. Eh
pesen-pesen, mau pesen apa?” aku sambil memberi menu ke Dina.
“Hmmm apa ya, aku pesan ini aja sama
minumnya ini,” dia menunjuk salah satu cake dan minumnya.
Aku langsung memanggil pelayan dan
memesan cake dan makanan yang ingin dipesan. Aku pilih chocolate cake dan soft
drink, begitu pula dengan Dina memesan cheese choco cake dengan minuman Ice
Chocolate. Setelah selesai memesan aku langsung berbincang lagi dengan Dina.
“Gimana tadi di jalan? Macet ya
pasti,” tanya aku.
“Hmm gak sih, cuma macet di depan
doang tadi kok,” jawab Dina.
“Iya situ mah emang selalu macet
kalo sore,” aku memperhatikan Dina dengan seksama.
“Iya emang,” jawab Dina.
Di situ, aku dan Dina berbicara
banyak tentang hidup kita masing-masing. Berbicara segala macam yang dibahas.
Dari mulai kehidupan sehari-hari, tentang masa lalu, sampai membahas alasan aku
ingin mengajak jalan Dina.
Yang aku lihat dari diri Dina, satu
pribadi yang sederhana tetapi memiliki sejuta pesona yang dilontarkan lewat
auranya. Di bilang cantik, tidak. Dia perempuan yang sederhana yang bisa
menggugah rasa penasaran aku. Kalau bisa di bilang, dia tipe perempuan yang aku
sukai. Tapi ah sudahlah, ini baru awal aku bertemu dengan Dina. Tidak mungkin
aku bisa menaruh hati dengan dia secepat itu. Ditambah, aku juga masih
mempunyai masa lalu yang masih harus aku selesaikan. Masa lalu yang begitu
sulit dilewati, tetapi mau tidak mau ya harus diterima.
Hari ini, akhirnya aku bisa tahu
pribadi dia seperti apa, aku sudah bisa dekat dengan dia. Begitupun dia,
sepertinya tidak ada masalah jika aku dengan dia. Setelah selesai
berbincang-bincang, aku dan Dina segera bergegas pulang ke rumah masing-masing.