Kamis, 06 Juli 2017

Kamu, Merubah Segalanya - Perkenalan BAB 1

Perkenalan

“Bang, beli buku akuntansi dengan siapa?” aku coba bertanya kepada teman disampingku yang aku ketahui namanya Bobby.
            “Oh itu bang, sama perempuan yang pakai baju warna pink,” dia menjawab sambil menunjuk kearah perempuan tersebut. Aku langsung menoleh arah perempuan tersebut.
            “Oke terimakasih bang,” lalu aku segera menghampiri perempuan itu dengan maksud ingin membeli buku akuntansi. Aku perhatikan dia yang sedang sibuk mencatat. Entah apa yang dia catat, mungkin data-data mahasiswa yang ingin membeli buku dengannya.
            “Ayo, sini .. sini ... yang mau beli buku langsung ke gue aja. Depe dulu dua puluh ribu, nanti minggu depan langsung gue kasih bukunya,” teriak perempuan itu sambil masih sibuk mencatat dan menghitung uang yang sudah terkumpul.
            Aku menyodorkan uang lima puluh ribuan kepada dia, “Maaf mba, saya mau beli buku. Ini uangnya.”
            “Oh iya mas, ini uang kembaliannya. Siapa namanya mas?” dia bertanya sambil memberikan uang kembalian.
            “Gio.”
            “Siapa? Diyo?” perempuan itu salah dengar, mungkin efek kelas yang masih pada ramai jadi agak kurang jelas suara yang aku lontarkan.
            “Gio mba. G-I-O,” aku coba perjelas nama aku pakai ejaan.
            “Oh Gio. Ya ya ya. Oke udah gue catat ya. Bukunya minggu depan langsung gue kasih, sekalian nanti lunasin ya pas bukunya gue kasih.”
            “Oke sip. Terimakasih.”
             Setelah itu aku kembali ke tempat duduk dan menghampiri Bobby. Meskipun aku sudah ditempat duduk, aku masih saja memandang perempuan tersebut. Memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Sepertinya aku tertarik dengan perempuan itu.
            “Eh bang, melamun aja,” suara Bobby membubarkan lamunanku.
            “Eh iya bang, anu ... hhmmm bingung nih kelas ramai sekali ya sampai sesak begini. Hahaha ...” aku coba mencari alasan agar tidak tahu bahwa sebenarnya aku sedang memperhatikan perempuan tersebut.
            “Iya nih, kayanya digabung dengan NIM lama. Eh abang lulusan tahun berapa?” Bobby bertanya kepadaku.
            “Gue lulusan tahun 2007. Telat gue kuliahnya. Awalnya sih tidak ada niat untuk kuliah tapi kesininya malah jadi mau kuliah. Iri dengan teman-teman gue yang sudah pada lulus,” aku coba menerangkan alasan aku untuk kuliah kepada Bobby. Meskipun sebenarnya bukan itu alasan kuatku untuk kuliah. Ada satu alasan kuat aku untuk mencoba memasuki dunia perkuliahan.
            “Panggilnya jangan bang, panggil nama saja. Jadi berasa tua gue kalau dipanggil bang. Kalian sendiri lulusan tahun berapa? Dan apa alasannya mau kuliah?” aku coba balikkan pertanyaan itu kepada mereka.
            “Oh iya Yo, kan belum kenal jadinya panggil bang aja biar keliatannya sopan. Hehe ... Kalau gue lulusan tahun 2010. Gue telat satu tahun. Pertama lulus langsung bantuin nyokap dagang aja,” ucap Bobby.
            “Nah kalo gue lulusan tahun ini. Gue sekolahnya di Jawa. Pas lulus kemarin, gue langsung ke Jakarta karena mau kuliahnya di Jakarta,” jawab Danu.
            Ternyata kuliah itu tidak serumit yang diperkirakan. Banyak teman-teman baru yang aku kenal. Aku sebenarnya tipe orang yang sulit untuk masuk ke suasana yang baru. Sulit untuk menyesuaikan lingkungan yang baru, mungkin efek sifat aku yang pemalu dengan orang-orang baru jadi perasaan seakan-akan sulit untuk masuk ke lingkungan yang baru. Padahal mah kalau aku sudah bisa sesuaikan dengan lingkungan yang baru, aku orang yang pandai untuk bergaul dengan siapapun. Hanya saja tadi, untuk memulai lingkungan yang baru masih agak sulit.
            “Oh begitu. Iya iya, salam kenal ya. Eh udah ada dosennya tuh,” ucap Bobby yang melihat dosen masuk ke ruang kelas.
            “Eh iya. Udahan dulu ngobrolnya. Kita belajar dulu lah,” balas aku.
            Pelajaran perama pun dimulai. Hari ini memang hari pertama aku masuk kuliah tahun ajaran 2011 – 2012. Banyak diantara meraka saling beradaptasi satu sama lain.

***

            Keesokan harinya di kantor, aku dapat informasi dari Ery salah saatu teman kantor aku, bahwa nanti malam ada futsal. Aku biasa memang di kantor futsal kadang seminggu sekali, kadang pula dua minggu sekali. Memang jadwalnya tak menentu.
“Yo, entar futsal ya jam 7 kaya biasa di tempat biasa.”
“Yah, sekarang mah gak bisa gue.”
“Kenapa loe?”
            “Ada jadwal kuliah.”
            “Lah loe sekarang udah kuliah? Kelas karyawan ya? Dimana? Wah ... wah ... wah ... udah kuliah dia. Kenapa gak dari dulu aja loe kuliah, kenapa baru sekarang coba. Orang-orang udah pada lulus, loe mah baru mulai,” sahut Bagus yang mendengar percakapan aku dengan Ery.
            “Hahaha ... iya dong. Di Budi Luhur Roxy,” balas aku.
            “Emang ada di Roxy?” tanya Bagus.
            “Ada, itu di Kampus B nya. Di dalam area Roxy pokoknya.”
            “Baguslah kalo gitu. Tapi gue gak yakin nih kalo loe kuliah niatnya buat belajar, pasti buat nyari cewek yah luh, ngaku luh!” canda Ery.
            “Iyalah mau nyari cewek baru gue. Udah ah gue mau ke kampus dulu, gue gak main dulu hari ini. Salam aja sama yang lain,” jawab aku.
            Aku pun pulang dan segera menuju ke kampus. Sesampainya di kampus, aku langsung mencari tempat duduk. Aku coba perhatikan tempat mana yang masih kosong. Terdengar suara dari kejauhan seperti ada yang memanggil. Aku coba cari sumber suara tersebut.
            “Eh Yo, ssttt ... sini.”
            “Eh Bob, kirain siapa yang manggil. Si Danu kemana? Belum datang?” ternyata yang manggil itu Bobby. Aku langsung duduk disampingnya sambil aku taruh tas.
            “Belum, sebentar lagi juga pasti datang,” jawab Bobby.
            Aku memperhatikan seisi ruangan itu. Aku mencari perempuan yang kemarin beli buku. Dan ternyata perempuan itu baru saja datang dan duduk tepat di sampingku. Aku ingin coba menegurnya untuk sekedar basa-basi tetapi sayang belum tahu siapa namanya. Aku hanya bisa terus memperhatikan perempuan itu. Paras yang tidak begitu cantik namun cukup manis untuk dipandang.
            “Apa gue suka sama dia ya? Ah rasanya gak mungkin, masa baru beberapa hari lihat dia langsung suka gitu aja. Mungkin hanya perasaan penasaran gue aja ke dia,” gumam aku dalam hati.
            Tak lama kemudian, kelas pun menjadi ramai. Mahasiswa sudah mulai berdatangan karena sedikit lagi jam perkuliahan akan segera dimulai. Dosen pun sudah masuk ke dalam kelas.
            Setelah jam kuliah selesai, dosen meninggalkan ruang kelas dan diikuti oleh beberapa Mahasiswa. Masih ada beberapa Mahasiswa yang masih berada di dalam kelas.
            “Ayo Yo turun,” ajak Bobby dan Danu.
            “Iya kalian duluan aja, gue masih mau di dalam kelas.”
            “Yaudah kita duluan ya.”
            “Oke. Hati-hati luh.”
            Bobby dan Danu meninggalkan ruangan kelas. Aku masih ada di dalam kelas, sambil membereskan alat-alat tulis.
            “Eh ini siapa lagi yang mau bayar buku? Besok terakhir loh,” terdengar suara perempuan itu.
            “Gue besok aja Na, cuma bawa duit pas-pasan,” balas salah satu teman yang aku ketahui bernama Lili.
            “Dina, gue bayar sekarang aja nih, berapa sih? Dua puluh ribu ya? Nih uangnya,” balas salah satu teman lainnya.
            “Oke. Noted,” dina mengambil uang tersebut dan mencatat nama teman yang tadi sudah bayar.
            Dina, ternyata Dina namanya. Akhirnya aku tahu siapa nama perempuan tersebut. Aku semakin penasaran untuk mencari tahu sosok Dina lebih jauh.
            “Eh Na, jangan lupa ya gue udah bayar. Jangan lupa dicatet nama gue,” aku mencoba untuk sok akrab dengan Dina.
            “Eh iya, loe namanya siapa dah kemarin gue lupa?”
            “Wah sehari aja udah lupa nama gue.”
            “Iya, siapa dah? Gio ya?”
            “Nah, tuh tau. Iya betul. Hehehe ...”
            “Iya iya mudah-mudahan gue gak lupa. Hehehe ...”
            Aku langsung segera keluar ruang kelas. Sepertinya perempuan itu sangat asyik diajak bicara dan mudah bergaul dengan orang baru. Tidak seperti aku, untuk menegur dia tadi pun harus punya nyali yang besar dulu. Tapi itu tidak jadi penghalang buat aku agar bisa lebih dekat dengan Dina. Iya Dina, perempuan yang selalu aku pikirkan dua hari ini.

***

            Dua minggu masa perkuliahan berjalan, aku masih mencari tahu sosok perempuan itu. Karena rasa penasaran yang begitu besar, aku coba untuk mencari tahu di media sosial milik Dina. Mulai dari facebook, instagram dan path aku jelajahi. Sampai aku tahu tempat dimana dia sekolah waktu SMP. Aku ingat sekali dengan nama sekolah itu. Iya, aku punya teman yang pernah sekolah di tempat itu. Teman SMK aku pernah sekolah di sana.
            Aku coba tanya kepada Adin, teman SMK ku dulu. Kebetulan aku setiap minggu futsal dengan dia.
            “Din, loe sekolahnya di SMP 38 kan ya? Kenal sama yang namanya Dina gak?”
            “Iya, gue kan alumni sana. Dina? Temen gue gak ada yang namanya Dina dah.”
            “Masa gak kenal? Ade kelas loe sepertinya deh.”
            “Gak kenal gue. Kenapa emangnya? Curiga nih gue,” adin mengernyitkan dahinya sambil menatap aku penuh tanya.
            “Gak apa-apa kok, gue Cuma nanya aja. Dia teman satu kuliah gue. Dia sekolahnya di 38 juga. Adek kelas loe sepertinya.”
            Ternyata Adin tidak mengenal Dina. Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa cari tahu lebih banyak lagi. Kali saja nanti ada kesempatan untuk berbicara berdua dengan dia.
            Di hari berikutnya di kampus, saat itu sedang ada mata kuliah Bahasa Inggris. Setelah selesai pelajaran, sang dosen memberikan tugas kelompok untuk dipresentasikan secara bergilir mulai minggu depan. Satu kelompok terdiri dari 3-4 orang dengan tugas membuat suatu situasi dimana percakapannya menggunakan Bahasa Inggris.
            Ini kesempatan aku untuk dapat satu kelompok dengan Dina. Aku sudah mengkira-kira agar bisa satu kelompok dengan Dina, tapi sayang kelompok tersebut dipilih berdasarkan nomor absen, sedangkan aku dengan Dina nomor absennya berbeda jauh. Apalah dayaku, gagal lagi untuk dekat dengan dia.
            Setelah dosen memberikan tugas dan arahan, dosen pun segera meninggalkan ruang kelas dengan diikuti beberapa mahasiswa di belakangnya. Aku lihat Dina, masih berada di tempat duduknya. Aku coba memberanikan diri untuk menegur dia sekedar basa-basi.
            “Hei, loe kelompok sama siapa?”
            “Ini nih kelompok gue, loe sendiri kelompok dengan siapa?” Dina sambil menunjuk teman satu kelompoknya dan balik bertanya kepada ku.
            “Oh, gue sama Tiya dan Via. Gue bingung cari tema tentang apa. Temanya ribet semua soalnya. Hehehe ..”
            “Dih cari aja yang gampang. Kalo gue sih tentang kuliner gitu. Lebih simple soalnya, paling nanti beli makanan atau cemilan gitu buat dijadiin bahan presentasi nanti.”
            “Hmmmm, iya ya. Apa gue tentang kuliner juga kali ya. Kaya di restoran gitu,” balas aku sambil memperhatikan Dina yang masih merapikan buku-bukunya.
            “Nah iya, restoran juga bagus tuh. Nanti tinggal pake kemeja aja sama bawa perlengkapan restoran.”
            “Oke. Makasih sarannya ya. Eh btw, loe alumni SMP 38 kan ya?” aku coba bertanya lagi.
            “Iya, kok loe tau dah? Eh yuk ngobrolnya sambil turun, gue mau buru-buru pulang, udah lelah,” dia sedikit terkejut aku tahu tempat dia sekolah. Dia juga mengajak untuk segera keluar ruang kelas dan turun. Kelihatannya dia memang sedikit lelah, terlihat dari raut wajahnya.
            “Yuk, tau dong. Gue gitu loh,” sambil keluar ruangan dan menuruni tangga.
            “Hhmm ... pasti loe stalker sosmed gue ya? Ngaku luh?”
            “Hehehe ... iya gue liat di sosmed loe kemarin. Pas gue liat SMP 38, nah gue inget-inget kan tuh soalnya gak asing sama SMP 38. Gue punya temen juga di sana, gue tanya sama dia eh gak kenal sama loe katanya. Hu, gak terkenal sih loe,” aku coba ajak dia bercanda.
            “Ciee stalker ciee. Ngefans nih jangan-jangan sama gue. Dih enak aja, gue mah terkenal di sekolah gue. Temen loe aja kali tuh yang gak terkenal. Emang siapa namanya temen loe?” dia balas candaan ku. Sepertinya Dina memang orang yang mudah bergaul dan diajak bercanda.
            “Si Adin, kenal gak? Dia kakak kelas loe.”
            “Adin? Adin ... Adin ... gak kenal gue. Eh gue duluan ya,” sambil menyalakan motornya.
            “Iya Adin. Emang loe rumahnya dimana? Gue kira loe naik ojeg.”
            “Di Cengkareng situ. Gak kok, gue selalu bawa motor.”
            “Oh yaudah kalo gitu. Hati-hati di jalan ya.”
            “Oke. Makasih. Bye,” dia langsung tancap gasnya.
            “Iya, bye.”
            Akhirnya aku bisa mengajak bicara Dina juga meskipun hanya sebentar. Yang aku lihat memang dia benar-benar orang yang menarik, ramah dan mudah diajak bercanda. Setelah Dina pulang, aku juga memutuskan untuk segera pulang.
            Sesampainya di rumah. Aku masih saja memikirkan Dina. Aku masih ingin mengobrol dengan dia. Aku ingat, waktu di kampus ada buat grup chatting untuk mata kuliah Bahasa Inggris. Aku coba cari nomor teleponnya Dina. Dan ketemulah nomor Dina, tetapi aku ragu untuk memulai chatting dengan dia. Bingung harus memulai percakapan darimana. Aku coba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.

Gio       :  Hei, loe udah ngerjain tugas akuntansi?
           
Aku coba memulai pembicaraan dengan menanyakan tugas akuntansi kepada Dina. Tetapi belum dibalas oleh dia. Mungkin masih dalam perjalanan. Sesaat kemudian Hp ku bergetar, kulihat ada balasan chat dari Dina.

Dina     : Hei. Belum, loe udah?

Aku langsung balas chat dari Dina. Dan dari situ aku mulai berbalas chat.

Gio       :  Yang tugas pertama udah, yang kedua belum. Loe belum semuanya?
Dina     :  Yang tugas pertama mah udah gue, yang kedua sama kaya loe belum. Mager banget. Banyak tugasnya.
Gio       :  Iya, banyak banget. Gue kira loe udah selesai semuanya. Eh loe umurnya berapa emangnya?
Dina     :  Kenapa loe nanya umur gue? Umur gue baru 19 tahun.
Gio       :  Serius masih 19 tahun?
Dina     :  Iya serius. Loe sih udah tua, makanya kaget denger gue yang masih imut-imut ini. Hahaha ...
Gio       :  Hahaha ... anjir banget. Iya aja deh asal loe seneng. Gak lah, gue baru 21 tahun. Eh btw loe tau swimming splash gak?
Dina     :  Mau gue seneng mah bawain gue cake coklat. Yang dimana? Semanan?
Gio       :  Oh suka coklat toh. Mau banget apa gue bawain? Hahaha ... Iya yang di Semanan, enak gak tempatnya?
Dina     :  Suka banget malah. Issshhhh yaudah gausah dibawain, gak perlu. Bagus sih tempatnya. Itu mah deket banget dari rumah gue.
Gio       :  Iya iya, nanti gue bawain ya. Eh ntar dulu, nanti kalo gue bawain coklat, ada yang marah lagi. Oh deket dari rumah loe toh.
Dina     :  Bawain satu truk ya? Hahaha ... siapa yang marah?

            Dari obrolan tersebut, sepertinya Dina masih belum memiliki pacar. Aman lah berarti kalau aku mendekati Dina.

Gio       :  Hahaha ... satu truk mainan ya? Hmm ... maybe your boyfriend. Gue mau kesana nanti.
Dina     :  Kampret, kecil itu mah. Sedih sih diungkapinnya, tapi gue masih jomblo kok saat ini. Yaudah kesana aja cobain.
Gio       :  Mau yang banyak? Beli sendiri.
Dina     :  Dishhhhh ...
Gio       :  Hahaha ... Eh btw jalan lah yuk next? Gue beliin cake deh.
Dina     :  Hahaha ... mau kemana?
Gio       :  Kemana-mana hatiku senang. Ke tempat yang ada kuenya lah.
Dina     :  Iya kemana?
Gio       :  Ke Harvest. Kalo ditempat loe ada tempat yang enak gak?
Dina     :  Boleh boleh. Hehehe ... Duh disini mah gak ada tempat yang bisa direcommend.
Gio       :  Oh begitu. Loe ada waktunya kapan Din?
Dina     : Gue mah kapan aja bisa.
Gio       :  Ohiya ya kalo jomblo mah bebas ya kapan aja bisa. Wkwkwk ...
Dina     : Kampreettt
Gio       :  Yaudah malam selasa gue jemput ya. Sekitaran jam 6 lah.
Dina     : Emang loe pulang kantor jam berapa?
Gio       : Jam 5 atau setengah 6. Kalo loe jam berapa pulang kerja?
Dina     :  Suka-suka gue lah pulangnya jam berapa. Jam 4 gue pulangnya.
Gio       : Oh yaudah. Loe pulang dulu kan?
Dina     :  Kalo gue pulang dulu, lu jemputnya jauh terus macetnya gak nahan. Gue aja jarang balik kerja langsung pulang. Wkwkwk ...
Gio       :  Hahaha ngayab mulu ya. Eh loe bawa motor kan?
Dina     : Loe maunya gue bawa motor apa gak?
Gio       :  Enaknya sih gak usah bawa motor. Hehehe ...
Dina     :  Eh loe udah punya cewek? Haduh gue jalan sama cowo orang dong kalo gitu.
Gio       :  Haduh kata siapa gue punya cewek?

            Setelah itu tidak dibalas lagi chatku oleh Dina. Aku bingung kenapa dia bisa bicara seperti itu. Aku masih menunggu balasan dari Dina. Beberapa menit berlalu ternyata tidak dibalas. Aku coba chat lagi ke Dina.

Gio       :  Gak dibalas kok?
Dina     :  Ini dibalas.
Gio       :  Hmm ... emang kata siapa gue punya cewek? Gue masih sendiri kok alias single. Hehehe ...
Dina     : Wkwkwk ... grup.
Gio       :  Oh dari grup. Itu mah cuma bercandaan doang kali.
Dina     : Oh bercanda. Oke kalo gitu.
Gio       : Yaudah malam selasa kita ketemuan aja deh ya di Harvest. Loe kan bawa motor. Kalo loe nunggu gue pulang takut loe kelamaan nunggunya. Nanti paling sampe sana gue sekitaran jam setengah 6.
Dina     : Oke kalo gitu.

            Ternyata Dina mengira aku sudah punya cewek. Dia lihat di grup Bahasa Inggris memang ada menyinggung soal perempuan, tapi itu hanya guyonan saja. Akhirnya, aku janjian untuk bertemu malam selasa di salah satu tempat kue terkenal. Tak sabar aku menanti hari itu, ingin sekali berbincang-bincang dengan dia.

***

            Hari itu tiba juga, setelah pulang jam kerja, aku langsung hubungi Dina untuk kasih tahu kalau aku sudah pulang kerja. Aku beri tahu ke dia bahwa aku langsung menuju ke tempat sesuai yang dijanjikan dan dia pun kebetulan baru mau berangkat ke tempat itu. Aku tancap gas motor aku.
            Sesampainya di sana, aku dahulu yang sampai ternyata. Aku menunggu dia beberapa saat. Belum pesan makan dan minum. Sesaat kemudian, dia sudah sampai juga. Aku coba melambaikan tanganku untuk memberi tahu posisi aku duduk dan dia melihat lambaian tanganku. Dina segera masuk tempat itu.
            “Hai, lama ya nunggunya?” tanya Dina yang langsung duduk.
            “Ah gak kok, belum lama. Eh pesen-pesen, mau pesen apa?” aku sambil memberi menu ke Dina.
            “Hmmm apa ya, aku pesan ini aja sama minumnya ini,” dia menunjuk salah satu cake dan minumnya.
            Aku langsung memanggil pelayan dan memesan cake dan makanan yang ingin dipesan. Aku pilih chocolate cake dan soft drink, begitu pula dengan Dina memesan cheese choco cake dengan minuman Ice Chocolate. Setelah selesai memesan aku langsung berbincang lagi dengan Dina.
            “Gimana tadi di jalan? Macet ya pasti,” tanya aku.
            “Hmm gak sih, cuma macet di depan doang tadi kok,” jawab Dina.
            “Iya situ mah emang selalu macet kalo sore,” aku memperhatikan Dina dengan seksama.
            “Iya emang,” jawab Dina.
            Di situ, aku dan Dina berbicara banyak tentang hidup kita masing-masing. Berbicara segala macam yang dibahas. Dari mulai kehidupan sehari-hari, tentang masa lalu, sampai membahas alasan aku ingin mengajak jalan Dina.
            Yang aku lihat dari diri Dina, satu pribadi yang sederhana tetapi memiliki sejuta pesona yang dilontarkan lewat auranya. Di bilang cantik, tidak. Dia perempuan yang sederhana yang bisa menggugah rasa penasaran aku. Kalau bisa di bilang, dia tipe perempuan yang aku sukai. Tapi ah sudahlah, ini baru awal aku bertemu dengan Dina. Tidak mungkin aku bisa menaruh hati dengan dia secepat itu. Ditambah, aku juga masih mempunyai masa lalu yang masih harus aku selesaikan. Masa lalu yang begitu sulit dilewati, tetapi mau tidak mau ya harus diterima.

            Hari ini, akhirnya aku bisa tahu pribadi dia seperti apa, aku sudah bisa dekat dengan dia. Begitupun dia, sepertinya tidak ada masalah jika aku dengan dia. Setelah selesai berbincang-bincang, aku dan Dina segera bergegas pulang ke rumah masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar